Meraih Berkah Dalam Bertamu

Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendirian. Ia membutuhkan pertolongan orang lain dalam menjalani dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk itu, ia harus bekerjasama dan membangun hubungan yang baik antar sesama. Dalam hubungan itulah, diperlukan jalinan hubungan sesama manusia yang dapat dibentuk dengan cara saling mengenal dan saling mengunjungi untuk tercipta keakraban. Saling kunjung inilah yang disebut dengan bertamu.
Kebiasaan saling berkunjung dan bertamu sudah menjadi tradisi. Baik bertamu di antara sanak famili, dengan tetangga atau dengan yang lainnya. Namun, banyak di antara kita yang melupakan atau belum mengetahui adab-adab dalam bertamu. Nah, alangkah indahnya jika setiap yang kita lakukan kita niatkan ibadah kepada Allah dan ittiba’ pada Rasulullah, termasuk dalam hal adab bertamu ini. Berikut ini adab-adab bertamu yang perlu kita ketahui:

1. Mengucapkan Salam & Minta Izin Masuk
Terkadang seseorang bertamu dengan memanggil-manggil nama yang hendak ditemui atau dengan kata-kata sekedarnya. Rasulullah mengajarkan, hendaknya seseorang ketika bertamu memberikan salam dan meminta izin untuk masuk.
Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat.” (QS. An-Nuur [24]: 27)
Kildah ibn al-Hambal berkata, “Aku mendatangi Rasulullah lalu aku masuk ke rumahnya tanpa mengucap salam. Maka Rasulullah bersabda, ‘Keluar dan ulangi lagi dengan mengucapkan ‘assalamu ’alaikum’, boleh aku masuk?’” (HR. Abu Daud )
Dalam hal ini Rasulullah mengajarkan kepada kita, bahwa batasan untuk meminta izin masuk rumah untuk bertamu adalah tiga kali. Sebagaimana dalam sabdanya, “Minta izin masuk rumah itu tiga kali, jika diizinkan untuk kamu (masuklah) dan jika tidak maka pulanglah!” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maksudnya adalah, jika kita telah memberi salam tiga kali namun tidak ada jawaban atau tidak diizinkan, maka itu berarti kita harus menunda kunjungan kita kali itu.
Adapun ketika salam kita telah dijawab, bukan berarti kita dapat membuka pintu kemudian masuk begitu saja atau jika pintu telah terbuka, bukan berarti kita dapat langsung masuk. Mintalah izin untuk masuk dan tunggulah izin dari sang pemilik rumah untuk memasuki rumahnya.
Hal ini disebabkan, sangat dimungkinkan jika seseorang langsung masuk, maka ‘aib atau hal yang tidak diinginkan untuk dilihat belum sempat ditutupi oleh sang pemilik rumah.
Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya disyari’atkan minta izin adalah karena untuk menjaga pandangan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Posisi Berdiri Tidak Menghadap Pintu Masuk
Hendaknya posisi berdiri tamu tidak di depan pintu dan menghadap ke dalam ruangan. Poin ini juga berkaitan hak sang pemilik rumah untuk mempersiapkan dirinya dan rumahnya dalam menerima tamu. Sehingga dalam posisi demikian, apa yang ada di dalam rumah tidak langsung terlihat oleh tamu sebelum diizinkan oleh pemilik rumah.
Abdullah bin Bisyr ia berkata, “Adalah Rasulullah apabila mendatangi pintu suatu kaum, beliau tidak menghadapkan wajahnya di depan pintu, tetapi berada di sebelah kanan atau kirinya dan mengucapkan assalamu’alaikum… assalamu’alaikum…” (HR. Abu Dawud)

3. Tidak Mengintip
Mengintip ke dalam rumah sering terjadi ketika seseorang penasaran apakah ada orang di dalam rumah atau tidak. Padahal Rasulullah sangat mencela perbuatan ini dan memberi ancaman kepada para pengintip.
Rasulullah sabdanya, “Andaikan ada orang melihatmu di rumah tanpa izin, jika engkau melemparnya dengan batu kecil lalu kamu cungkil matanya, maka tidak ada dosa bagimu.” (HR. Bukhari Kitabul Isti’dzan)

4. Pulang Kembali Jika Disuruh Pulang
Kita harus menunda kunjungan atau dengan kata lain pulang kembali ketika setelah tiga kali salam tidak di jawab atau pemilik rumah menyuruh kita untuk pulang kembali.
Sehingga jika seorang tamu disuruh pulang, hendaknya ia tidak tersinggung atau merasa dilecehkan karena hal ini termasuk adab yang penuh hikmah dalam syari’at Islam. Di antara hikmahnya adalah hal ini demi menjaga hak-hak pemilik rumah.
Allah berfirman, “Jika kamu tidak menemui seorangpun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu: Kembali (saja)lah, maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nuur: 28)

5. Menjawab Dengan Nama Jelas Jika Pemilik Rumah Bertanya “Siapa?”
Terkadang pemilik rumah ingin mengetahui dari dalam rumah siapakah tamu yang datang sehingga bertanya, “Siapa?” Maka hendaknya seorang tamu tidak menjawab dengan “saya” atau “aku” atau yang semacamnya, tetapi sebutkan nama dengan jelas.
Sebagaimana terdapat dalam riwayat dari Jabir, dia berkata, “Aku mendatangi Rasulullah, maka aku mengetuk pintu, lalu beliau bertanya, ‘Siapa?’ Maka Aku menjawab, ‘Saya.’ Lalu beliau bertanya, ‘Saya, saya?’ Sepertinya beliau tidak suka.” (HR. Bukhari dan Muslim)

6. Jangan Bertamu Sembarang Waktu.
Bagi seorang yang bertamu hendaklah mengetahui kebiasaan dan kesibukan tuan rumah agar saat bertamu tidak mengganggu aktivitasnya. Bertamulah pada saat yang tepat, jangan bertamu disaat tuan rumah dalam keadaan sibuk dan jangan pula bertamu pada waktu-waktu istirahat.

Demikianlah beberapa poin yang perlu kita perhatikan agar apa yang kita lakukan ketika bertamu pun sesuai dengan yang diajarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan mengetahui adab-adab yang telah diajarkan Rasulullah ini juga membuat kita lebih lapang kepada saudara kita sebagai tuan rumah ketika ia menjalankan apa yang menjadi haknya sebagai pemilik rumah. Wallahu a’lam.

Leave a Reply